Agrobisnis Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015

  1. Home
  2. /
  3. Blog
  4. /
  5. Agrobisnis Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015

Agrobisnis Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015

Posted in : Blog on by : RHIN-B

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) yang akan dilaksanakan pada akhir tahun 2015. Dengan diterapkannya MEA/AEC ini diharapkan Negara-negara anggota ASEAN memiliki keleluasaan dan kemudahan aliran barang, jasa dan tenaga kerjat terampil hingga investasi yang mengalir ke Indonesia yang bebas pungutan-pungutan ekspor impor, seperti Quota, Tarif dan sebagainya.

Baru-baru ini Presiden kita Joko Widodo mengancam akan mencopot menteri, direksi badan usaha milik negara (BUMN) pelabuhan, hingga operator di lapangan yang dianggap tak mampu mempersingkat dwelling time (waktu tunggu kontainer di pelabuhan) sesuai target yang ditetapkan [1]. Dwelling Time yang lama bisa dianggap hambatan untuk kesiapan kita menghadapi MEA 2015. 

Program kerjasama yang rencananya akan dilaksanakan pada akhir tahun 2015 ini berbeda dengan program-program yang telah dilaksanakan sebelumnya. Pasalnya AEC ini menekankan pada pasar tunggal yang terbuka sesuai blueprint yang berisi empat pillar AEC.

4-pilar AEC 2015

Ini dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. Yang menjadi pertanyaan apakah Indonesia sudah siap terutama di bidang Agrobisnis?

Di bidang pertanian merupakan bidang yang paling fleksibel dan akan mudah diserang dari Negara lain. Untuk itu harus dikuatkan dari beberapa sudut. Di sektor perkebunan sebenarnya Indonesia dapat memanfaatkannya dalam menghadapi MEA, Indonesia kan memiliki komoditi perkebunan yang kualitas bagus seperti, kopi, kelapa sawit , kakao dan lainnya hal itu dapat dimanfaatkan guna menghadapi MEA. Negara dikatakan maju apabila di Negara tersebut ada 5%  yang menjadi pengusaha. Tapi di Indonesia jumlah pengusahanya kurang dari 2%, jadi Indonesia tidak dikatakan Negara yang maju.

Indonesia saat ini bisa menjadi pasar Asean yang menggiurkan karena jumlah penduduknya sekitar 250 juta jiwa. Sementara total penduduk Asean mencapai 600 juta jiwa. Seharusnya Indonesia bisa menjadi Negara Penghasil Produk Barang, Jasa, Tenaga Teraampil Terbesar di ASEAN bukan konsumen terbesar.

Dengan dibukanya selebar-lebarnya aliran investasi ke Indonesia, seharusnya pengusaha pertanian bisa memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan produktifitasnya. Para lulusan sarjana universitas haruslah melirik pekerjaan di bidang Agrobisnis, terutama dalam  kreatifitas menghasilkan nilai tambah dari produk agrobisnis sehingga yang dijual bukan Bahan mentah lagi dengan memanfaatkan teknologi. Minimnya lulusan sarjana bekerja di bidang pertanian harus kita ubah . Karena  Jika bukan kita, maka posisi-posisi di bidang pertanian bukan tidak mungkin akan diisi oleh Tenaga Kerja Asing.

Selain itu pemanfaatan bioteknologi kultur jaringan yang telah dipelajari oleh sarjana-sarjana pertanian kita seharusnya bisa dimanfaatkan menghasilkan bibit-bibit unggul yang akan menghasilkan tanaman-tanaman bernilai ekonomi tinggi dalam jumlah massal dalam waktu singkat. Kita ambil contoh, pemanfaatan Ubi Kayu untuk menghasilkan nilai tambah seperti BioFuel, memang benar tinggal tanam steknya dan langsung cepat tumbuh, tapi apakah bisa langsung menghasilkan ribuan bahkan ratusan ribu stek dalam waktu singkat?

Dengan Teknologi Kultur Jaringan kita bisa langsung memultiplikasi hingga ratusan ribu bibit Ubi Kayu dalam waktu yang relatif lebih singkat dibanding cara manual. Masih banyak tanaman agrobisnis yang terlihat tidak bernilai setelah diolah bisa menghasilkan nilai tambah dengan nilai ekonomis yang sangat tinggi, seperti bambu untuk bahan baku kertas [2], Tebu bisa gantikan bahan bakar avtur untuk pesawat [3] dan masih banyak lagi.

Kita bisa ikut bersaing di bidang agrobisnis diera MEA 2015 ini  jika sarjana kita berperan aktif di bidang pertanian menghasilkan nilai-nilai tambah dari produk pertanian kita. Semoga bisa segera terwujud.

Sumber: Berbagai Sumber.

Comments

comments