Pasar Masih Kekurangan Pasokan Pisang Raja Bulu

  1. Home
  2. /
  3. Blog
  4. /
  5. Pasar Masih Kekurangan Pasokan Pisang Raja Bulu

Pasar Masih Kekurangan Pasokan Pisang Raja Bulu

Posted in : Blog on by : RHIN-B

Potensi alam Indonesia sangat mendukung untuk pengembangan buah-buahan tropis sehingga bisa menjadi komoditas unggulan yang diminati pasar baik lokal maupun ekspor. Salah satu jenis buah lokal yang berpotensi menjadi komoditas unggulan adalah pisang. Indonesia memiliki sedikitnya 300 jenis pisang, salah satunya adalah Pisang Raja Bulu Kuning yang memiliki keunggulan seperti ukuran buah lebih ‘gemuk’, rasa yang manis, serta tidak mudah busuk dan lepas dari batang sisirnya.

Pisang dengan nama latin Mussa paradica ini dikenal sebagai buah tropis yang dapat dimanfaatkan sebagai buah segar maupun bahan makanan olahan. Pisang Raja Bulu Kuning adalah salah satu jenis Pisang Raja yang ukurannya sedang dan cenderung gemuk. Jenis Pisang ini tak berbiji, buahnya melengkung dengan pangkal buah agak bulat, kulitnya tebal berwarna kuning dan cenderung berbibtik cokelat, daging buangnya sangat manis dan berwarna kuning. Panjang buah Pisang Raja Bulu Kuning antara 12-18 cm dengan bobor rata-rata per buahnya 110-120 gram.

Penelitian yang dilakukan PKBT-IPB bersama dengan Puslitbang Gizi Depkes menunjukkan bahwa Pisang Raja Bulu memiliki indeks glikemik 54% dibandingkan dengan gula standar sehingga dapat dikonsumsi penderita diabetes. Pisang ini juga berguna bagi mereka yang mengalami stres dan kelelahan karena mengandung serotonin. Menurut Ketua Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT)-IPB, Sobir, kadar serotonin pada pisang ini cukup tinggi, yaitu sekitar 31,4 ng/g. Begitu juga kandungan kaliumnya. Pembentukan serotonin ini dirangsang oleh triptofan yang ada pada pisang. Serotonin merupakan senyawa yang membuat perasaan rileks, tenang, menambah mood atau suasana hati, serta membuat perasaan lebih bahagia sehingga stres ataupun kelelahan bisa terusir.

Dalam satu pisang terkandung banyak zat gizi. Kandungan vitamin dan mineralnya lebih unggul dibandingkan buah dan sayuran lain, terutama untuk vitamin B6 (piridoksin), C, kalium, serat, dan mangan. Jika dibandingkan dengan apel, pisang mengandung 4 kali lebih banyak protein, dua kali lebih banyak karbohidrat, tiga kali lebih banyak fosfor, lima kali lebih banyak Vitamin A dan zat besi, serta dua kali lebih banyak vitamin dan mineral lainnya.

Walaupun Indonesia mempunya 300 jenis pisang, namun melihat tingkat konsumsi masyarakat terhadap buah ini dinilai masih rendah. Menurut Sobir alasan masyarakat Indonesia melihat pisang sendiri adalah makanan “orang miskin,” padahal pisang itu buah yang kaya dengan vitamin dan menyehatkan. Padahal kita punya 300 jenis pisang dengan produksi ke-4 terbesar di dunia lho,” beber Sobir. Berbeda dengan Indonesia, Amerika Serikat justru sebaliknya. Masyarakat AS rajin mengkonsumsi pisang dengan jumlah besar. Padahal 100 % pisang yang dimakan adalah pisang dari negara lain alias impor. Data terakhir menyebutkan, jumlah rata-rata konsumsi pisang orang Amerika adalah 22 kg/kapita/tahun. Sedangkan Indonesia hanya 7,8 kg/kapita/tahun. “Jadi pola pikir itu yang harusnya diubah oleh orang Indonesia,” ujar Sobir.

Meski begitu, peluang pengembangan agribisnis komoditas pisang masih terbuka luas. Untuk keberhasilan usaha tani pisang, selain penerapan teknologi, penggunaan varietas unggul dan perbaikan varietas harus dilaksanakan. Varietas unggul yang dimaksud adalah varietas yang toleran atau tahan terhadap hama dan penyakit penting pisang, mampu berproduksi tinggi serta mempunyai kualitas buah yang bagus dan disukai masyarakat luas.

Potensi Ekspor. Dari semua bidang agribisnis, sektor hortikultura-lah yang dianggap paling rawan serbuan impor produk China. Apalagi dengan diberlakuannya perdagangan bebas antara ASEAN-China. Pasar dalam negeri diprediksi akan makin kebanjiran produk dari sana. Tapi jangan dulu pesimis, nyatanya beberapa komoditas dari sektor hortikultura berpeluang memasuki pasar China. Salah satu komoditi tersebut adalah buah pisang.

Saat ini Indonesia berada pada posisi ketujuh negara penghasil pisang terbesar di dunia. Indonesia mampu menghasilkan 6,3 juta ton pisang per tahun. Akan tetapi, produk pisang yang diekspor Indonesia masih sangat minim. Hal ini disebabkan karena kualitas pisang di Indonesia yang belum terlalu baik. Kini Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan nyatanya sedang menggarap potensi ekspor buah Indonesia. Saat ini Kemendag menargetkan pertumbuhan penjualan ke luar negeri antara 14,5%-15,5% tahun ini dari capaian 2013 senilai US$417,60 juta. Dengan demikian, ekspor buah tahun ini diharapkan menembus kisaran US$478,15 juta—US$482,32 juta. Data Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN), hingga semester I Tahun 2014, nilai ekspor buah telah menyentuh US$313,2 juta. Itu berarti realisasi target ekspor buah tahun ini setidaknya telah mencapai 65,5%. Sementara itu secara volume, Badan Pusat Statistik (BPS) merangkum produksi pisang untuk ekspor tahun lalu sekitar 5,3 juta ton.

Sobir menyatakan, secara selera, masyarakat China tak jauh beda dengan penduduk Indonesia. Lain dengan bangsa Eropa dan Amerika. “Warga China tak begitu peduli dengan tampilan luar buah, tapi lebih mengutamakan cita rasa. Asalkan rasanya manis, pasti laku,” jelasnya. Alhasil, buah tropika Indonesia pastinya berprospek memasok pasar China.

Pendapat lain datang dari Winny Dian Wibawa, Direktur Budidaya Tanaman Buah, Ditjen Hortikultura. Ia menambahkan, penduduk China begitu ‘rakus’ dengan komoditas pisang. Sehingga apa pun jenisnya, pisang punya peluang. Bukan hanya pisang Mas, tapi juga pisang Ambon dan pisang Raja Bulu. Lebih lanjut Winny mengatakan, di luar itu, untuk menembus pasar China, cakupan mutu buah juga harus terpenuhi. Buah yang dikirim wajib mempunyai keseragaman rasa, ukuran, tingkat kematangan, dan batas minimum residu pestisida.

Nah, belum terlambat untuk memulai usaha budidaya pisang, mumpung peluang pasarnya sangat menggiurkan. FN-03

(Informasi dan ulasan usaha selengkapnya bisa dibaca di tabloid Peluang Usaha, Edisi 25-Th IX – 01 Oktober 2014) – Sumber: http://fastnewsindonesia.com/article/pisang-raja-bulu-kuning-berpeluang-ekspor#sthash.W9r40NcY.dpuf

Comments

comments